SUTON-RADIO

Inspirasi Teknologi Terbaru

Fenomena tanah amblas di Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Wonogiri, pada Kamis (19/12/2019) kemarin, terjadi di tanah milik Sriwidodo dan Mursinah, warga Dusun Jetis Kidul, RT 02 / RW 02. Menurut Ketua BPBD Wonogiri, Bambang Hariyanto kejadian ini bukan kali pertama terjadi di Manyaran. Pada 2018 lalu di Dusun Platar, Desa Pijiharjo, Manyaran juga pernah mengalami tanah ambles.

Bambang mengatakan ada beberapa dampak mendasar akibat tanah yang amblas ini. Beberapa sumur warga mengalami potensi penurunan debit air, bahkan sumber potensi air di Sendang Belik setempat mengalami kering. "Pada lahan pertanian yang terdampak lubang penurunan, berdasarkan laporan pemilik lahan mengalami penurunan produksi dan kehilangan periode masa tanam," jelasnya.

Untuk saat ini pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada warga masyarakat disekitar lokasi, untuk tidak melakukan aktifitas di lokasi tanah yang amblas. "Karena mungkin terjadi perkembangan dampak penurunan tanah," imbuhnya. Sehingga BPBD Wonogiri membuat pagar pembatas disekitaran lokasi lubang tanah yang amblas.

"Kamimengalihkan aliran air, agar tidak masuk kedalam lubang," "Kami juga menutup setiap rekahan maupun keberadaan lubang penurunan agar aliran air tidak masuk," ungkap Bambang. Warga Dusun Jetis Kidul, RT 02 / RW 02 Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Wonogiri dikejutkan dengan amblasnya tanah.

Tanah amblas ini menimpa tanah milik Sriwidodo dan Mursinah pada Kamis (19/12/2019) kemarin. Menurut Ketua BPBD Wonogiri, Bambang Hariyanto penurunan tanah membentuk semacam lubang besar. Lubang itu berukuran panjang sekitar 18 meter, lebar sekitar 8 meter dengan kedalaman tercuram sekitar 16 meter.

Kondisi tanah amblas juga diiringi rekahan tanah kecil, memanjang sejauh sekitar 200 meter. Retakan itu hingga melewati beberapa bangunan rumah warga sebanyak 11 rumah. Pada titik tertentu juga terdapat beberapa lubang penurunan tanah bervariasi diameter sekitar 5 hingga 15 cm.

"Bahkan penurunan tanah pernah mengakibatkan 3 tiang bangunan rumah megalami pergeseran ke dalam lubang penurunan, namun sudah dilakukan perbaikan oleh pemilik rumah," imbuhnya. Jarak terdekat lokasi penurunan tanah dengan tempat pemukiman warga masyarakat sekitar 40 meter. Sebelumnya, pada lokasi sebelah barat jarak sekitar 150 meter pada lahan pertanian lokasi di Dusun Platar, Desa Pijiharjo, Manyaran juga pernah mengalami tanah ambles.

Di sana tanah ambles membentuk lubang dengan panjang 2,5 meter, lebar 2,5 meter, dan kedalaman sekitar 1,5 meter pada tahun 2018. "Di sana (Dusun Platar) sudah dilakukan penimbunan, tapi masih terlihat cekungan," terangnya. Di sekitar lokasi lahan pertanian itu juga terdapat puluhan lubang penurunan tanah dengan variasi diameter sekitar 10 cm hingga 60 cm. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *