SUTON-RADIO

Inspirasi Teknologi Terbaru

Pasca mengalami kontraksi pertama karena pandemi virus corona (Covid 19), sejumlah ahli berpendapat bahwa China telah mempersiapkan kemungkinan terjadinya krisis dalam waktu yang lama. Saat ditanya apakah China telah meramalkan kehancuran ekonomi akibat pandemi ini, Ekonom senior di Institute for China America Studies, Sourabh Gupta mengatakan, tidak ada satu pun negara yang mampu memprediksi kehancuran ekonomi akibat wabah ini, termasuk China. "Tidak ada seorang pun, termasuk China, yang dapat meramalkan kedalaman dan gravitasi pandemi ini, khususnya parameter transmisi yang digunakan virus Covid 19 untuk menyebar. Ini benar benar peristiwa pandemi 100 tahun sekali," kata Gupta.

Kendati demikian, ia menilai China lebih siap dibandingkan negara maju lainnya. "Karena mereka berada dalam posisi fiskal yang jauh lebih sehat dibandingkan dengan negara maju dan banyak negara berkembang juga," tegas Gupta. Dikutip dari laman Russia Today, Senin (11/5/2020), Gupta menjelaskan bahwa tingkat utang pemerintah pusat China sebagai persentase dari Produk Domestik Bruto (PDB) pun cukup sederhana.

Ini mengindikasikan ada banyak ruang di neraca pemerintah negara itu untuk meningkatkan dukungan kebijakan. Selain itu, tingkat utang konsumen terhadap pendapatan pun tidak terlalu tinggi, sehingga mereka juga tidak kelebihan utang. Begitu pula pernyataan yang disampaikan Ahli Strategi Internasional dan Independen China Andrew Leung yang mengatakan bahwa China selalu berpikiran strategis dalam jangka panjang dan lebih siap untuk menghadapi setiap krisis, hal itu karena kapitalisme negaranya.

"China dapat mengarahkan dana besar besaran dan lebih efektif memobilisasi bisnis serta orang orang, daripada negara Barat. Kemampuan yang sama telah ditunjukkan selama krisis keuangan Asia pada 1997 1998 dan krisis keuangan dunia 2008 2009," kata Leung. Kemudian menurut seorang Ahli yang mengamati urusan China dan Asia Tengah di Carnegie Moscow Centre, Temur Umarov, setiap negara berada dalam situasi ekonomi yang berbeda, sehingga respons mereka terhadap pandemi corona pun turut berbeda. Sementara banyak paket stimulus ekonomi yang diumumkan oleh beberapa negara, China telah memfokuskan kebijakannya pada pemulihan konsumsi domestik, serta pada bantuan untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Semua Pengamat sepakat bahwa baik China maupun negara lain tidak dapat meramalkan seberapa besar krisis yang terjadi saat ini. "Memang ada tsunami pandangan negatif tentang China sebagai akibat dari penyebaran krisis virus corona, mulut jelek Amerika juga telah membantu rasa tidak percaya banyak negara terhadap China. Tetapi China sejauh ini tetap menjadi ekonomi terbesar kedua, lebih besar dari gabungan negara negara BRIC lainnya," tegas Leung. Menurutnya, lebih banyak negara memilih China sebagai mitra dagang terbesar, dibandingkan rivalnya, Amerika Serikat (AS).

"Terlepas dari decoupling AS, kompleksitas proses produksi modern membuat hampir mustahil untuk menghapus segala sesuatu dari intervensi China, mulai dari bahan hingga komponen dan suku cadang, bahkan logistik. Karena sebagian besar pelabuhan peti kemas terbesar di dunia berada di China," papar Leung. China juga secara cepat meningkatkan teknologi mutakhirnya termasuk jaringan 5G dan Artificial Intelligence (AI). Sementara itu, Gupta melanjutkan perkiraannya, ekonomi China akan berada di kolom pertumbuhan pada akhir tahun ini, bahkan akan mengakhiri tahun ini dengan pertumbuhan positif secara keseluruhan.

"Pertumbuhannya dipastikan tidak akan mendekati target enam persen seperti sebelum Covid 19. Ini akan lebih seperti di kisaran satu hingga dua persen. namun begitu, dengan standar yang rendah ini, China akan tetap menjadi ekonomi dengan pertumbuhan tercepat diantara ekonomi utama dunia pada tahun ini, dan Asia Timur serta Asia Pasifik akan menjadi wilayah ekonomi yang tercepat perkembangannya di dunia," pungkas Gupta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *